Si Doel Anak Sekolahan. Mungkin kita sudah tidak asing dengan judul film yang sangat fenomenal pada masanya. Tokoh-tokoh yang mengisinya masih terasa sangat dekat dengan kita, terasa sangat kita kenal, terasa angat nyata bagi kita, seolah-olah tokoh-tokoh itu hidup berdampingan dengan kita. Meski saat itu mungkin kita tak lebih dari seorang anak kecil ataupun ABG yang sejatinya masih terombang-ambing oleh pengaruh lingkungan, kita mampu memahami bahwa film yang ditayangkan di salah satu stasiun swasta itu bukan sekedar film biasa, tapi luar biasa. Jika dilihat lebih dekat, banyak sekali pesan-pesan moral yang mampu kita ambil darinya. Mari kita lihat satu persatu tokoh untuk mengetahui pesan apa saja yang terkandung dalam film itu.
Doel, sang tokoh utama yang diperanka dengan sangat baik oleh Rano Karno ini sangat kental akan adat betawi yang dekat dengan kesan serba “pas-pasannya.” Dia ingin mendobrak paradigma yang mengatakan bahwa anak betawi asli tak mampu hidup berlebih. Ambisinya itu dia mulai dengan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Dia mengambil jurusan teknik mesin yang bagi orang tuanya sangat gelap. Dan saat ayahnya bertanya besarkah gaji tukang insinyur, Doel hanya menjawab, “Ya, lumayan, Beh.”
Dia sangat menghormati ayahnya meski terkadang ayahnya sering menekannya dengan pertnyaan-pertanyaan yang menyudutkannya tentang masa depan sang anak kemudian hari. Pernah dalam suatu episodenya, Doel dilarang bekerja karena ayahnya mengetahui bahwa Doel hanya menjabat sebagai supir. Babeh-ayah Doel- berang karena anaknya yang selama ini dia banga-banggakan, anak yang dia sekolahkan tinggi, anak yang memutuskan cita-citanya untuk pergi naik haji bersama istrinya, kini hanya bekerja menjadi seorang supir. Namun Doel tahu bahwa Babeh hanya menginginkan yang terbaik untuknya, maka ia ikuti perintah sang ayah.
Babeh, diperankan oleh Sang Legenda: H. Benyamin (alm) mampu membuat penonton merasakan wibawanya sebagai pemimpin keluarga ajaib itu. Wibawa yang tak pernah akan luntur meski candaan kocak sering keluar dari mulut yang diselingi kumis ulat bulu hitamnya itu. Sosok beliau sangat dihormati oleh setiap anggota keluarga Doel. Sosok seorang bapak yang tegas tercermin jelas dalam perangainya yang keras. Hanya masa depan Doel-anaknya- yang dia pikirkan. Meski kadang beliau kasar tehadap Doel, namu jauh dalm hatinya beliau sangat mencintai anak yang dibanggakannya itu. Keinginannya untuk pergi haji bersama istrinya pun dia kubur dalam-dalam demi mengkuliahkan Doel.
Pengorbanan seorang ayah yang terkadang tertutup oleh tirai tebal sikap keras yang senantiasa beliau pancarkan di depan anak-anaknya. Tak ada harapan bagi seorang ayah, melainkan kesuksesan anak-anaknya.
Mak Enya, seorang ibu yang mencintai anak-anaknya dengan sangat. Tokoh ibu sempurna ini diperankan oleh _ _ _. Tak terlihat kesan lelah sedikitpun pada air wajahnya bila berhadapan dengan anak-anaknya. Meski dia harus menghadapi suami yang keras terhadapnya, juga pada anak-anaknya, dia tak pernah kehilangan senyum di bibirnya.
Dia selalu mendukung usaha-usaha yang dilakukan kedua anaknya, Doel dan Atun. Dia lah yang menjadi rumah” bagi hati sang anak, Doel, yang hancur terluka bila Babeh memojokkannya. Tak ada tempat lain selain Mak Enya. Tak ada.
…………..tu bi kontinyu…
Si Doel Anak Sekolahan